CHAPTER 1
THIS IS 48 SCHOOL
*** Akhirnya
karena takut kena hukuman seperti Junkies, X3 pun kembali kekelas mereka. Tapi
sebelum mereka pergi, Kinal memberikan isyarat kepada Naomi yang isinya
menantang untuk melanjutkan peperangan mereka saat pulang sekolah nanti,
sayangnya hal itu tak disadari oleh Melody dan Naomi yang mengerti isyarat
tersebut dengan santainya tersenyum tanda setuju. Entah apa yang akan terjadi,
yang pasti aku, Barry dan Shofa tak ingin ikut terlibat lagi ***
Hari ini cuaca
begitu cerah, sinar mataharipun begitu indah bersinar. Meski agak malas karena
susana liburan yang masih berbekas, kulangkahkan kakiku menuju Sekolah. Sebuah
Sekolah Elite di sudut kota Jakarta, yang para siswanya dikenal masuk jajaran
siswa berprestasi seJakarta dan juga anak para Pengusaha Pengusaha besar.
Betapa beruntungnya aku bisa masuk kesekolah ini, tapi terkadang keberuntungan
itu berubah menjadi bencana seketika bila kuingat aku harus bersekolah dengan
segerombolan anak anak yang terkadang lebih mengedepankan Popularitas mereka
dan tak segan menindas para murid yang dianggap kurang Populer. Oia
perkenalkan, Namaku Yudha, Januar Permana Yudha, aku duduk di bangku kelas XII,
aku memang bukan murid yang begitu populer disekolah, apalagi aku hanya berasal
dari golongan keluarga biasa yang masuk kesekolah ini karena Beasiswa. Meski
begitu aku tak pernah takut kehabisan uang atau kalah saing dengan murid lain,
karena dengan otakku yang encer aku sangat diandalkan oleh mereka yang memang
daya tangkap pelajarannya kurang. Setiap tugas yang mereka berikan padaku
selalu kukerjakan dan sebagai imbalannya mereka akan memberikan apapun yang
kuminta, mulai dari uang, sampai gadget terbaru yang tak mampu kubeli. Selama
caranya Halal bukan masalahkan? Sedang asyik berjalan tiba tiba sebuah mobil
berhenti tepat disampingku.
“ Eh Curut tumben
loe jalan kaki, motor loe kemana?” Kata Shofa
“ Iye, melas amat
sih! Dijual buat biaya liburan ya?” Kata Barry
“ Ehhh anak
kampret, bukan ajakin gue nebeng malah ngeledek!” Kataku
“ Lagi emang
motor loe kemana?” Kata Barry
“ Masuk bengkel,
servis rutin, hari ini jadwalnya!” Kataku
“ Yaudah ayo
masuk!” Kata Shofa
Aku segera masuk
kemobil milik Shofa, Shofa dan Barry adalah sahabatku dari kelas X, kami trio
yang cukup aneh, karena kami meliliki karakter dan kepribadian yang amat
berbeda satu sama lain, tapi meski begitu hubungan kami bertiga sangat akrab
sebagai sahabat. Mobil terus melaju menuju kesekolah dan tak lama kamipun
sampai. Kami segera menuju kekelas, tapi saat dikoridor Shofa menghentikan
langkah kami. Awalnya aku merasa bingung, tapi tak lama aku sadar tak jauh
didepan kami ada salah satu Genk Paling Populer disekolah kami, mereka adalah
The Junkies, mereka berisikan 6 orang anggota, Pertama ada ketua mereka Kinal
yang merupakan sosok paling vital di grup ini, lalu Sendy yang ternyata dibalik
sikap anggunnya dia adalah penyuka lagu dangdut, Nabilah yang terkenal paling
muda di grup dan paling nyablak, ia juga penyuka musik cadas, Ayana si tukang
tidur yang memiliki wajah polos dan suka tertawa juga terkadang lemot, Shania
si Miss Ferfect yang selalu menginginkan segalas sesuatunya sempurna, dan
Haruka Siswa baru pindahan dari Jepang yang polos dan kadang lemot.
“ Mampus... Asli
mampus!” Kata Shofa
“ Kenapa sih
loe?” Kataku heran
“ Tau nih, ada
apaan sih?” Kata Barry
“ Kalian lupa
kejadian waktu sore pas sebelum kita liburan sekolah?” Kata Shofa
“ Bentar.... oooo
yang Junkies Ribut Sama X3 itukan? Kataku
“ Nah, Cuma kita
saksinya!” Kata Shofa
“ Terus Kenapa?” Kata
Barry
“ Gw denger sekarang
si Ketua Osis Killer Melody sama Wakilnya Ve lagi nyari siapa pelaku perusakan
ruang osis!” Kata Shofa
“ Hubungannya
sama kita apaan?” Kataku
“ Kita adalah
saksi kunci saat mereka ribut sama X3 dan akibatnya ruangan Osis ancur!” Kata
Shofa
“ Kalo gitu
cabut, cabut, cabut, serius mendingan cabut!” Kata Barry
Untuk mencegah
hal hal yang tidak diinginkan kamipun berusaha untuk menghindari mereka, tapi
sebelum kami sempat melakukannya, Kinal dengan lantang memanggil nama kami
meski status mereka adalah adik kelas kami.
“ Yudha, Shofa,
Barry!!! Mau kemana loe semua?” Kata Kinal
“ Sialan ketauan
kan kita” Kataku
“ Loe mau beresin
masalah sekarang atau kita jamin hari ini adalah hari terakhir kalian sekolah” Kata
Sendy
Suasana
dikoridurpun mendadak hening, Siswa lain hanya berani melihat dan sebagian lagi
memilih untuk menyingkir. Kami bertiga membalikan badan kami, benar benar hari
pertama sekolah yang sial buatku, andai saja mereka bukan kumpulan anak anak
pejabat penting disekolah ini pasti sudah ku hajar mereka satu persatu. Apa
sulitnya menghajar adik adik kelas perempuan ini, meski kecantikan mereka
diatas rata rata siswa disekolah ini, tapi untuk kami bertiga mereka adalah
musuh utama yang harus dibasmi. Akhirnya kamipun memasang muka polos dan pura
pura tidak tau atas kejadian yang kami lihat waktu itu.
“ Ehhh... Kinal
ada apa nih?” Kataku
“ Pake nanya
lagi! Kalian bertiga mendingan ikut kita sekarang! Kata Kinal
“ Tapi Nal 10
menit lagikan kita masuk kelas!” Kata Shofa
“ Nah itu dia,
nanti aja ya jam istirahat” Kata Barry
“ Iya betul 10
menit lagikan kita masuk kelas” Kata Haruka dengan logat Jepangnya
“ Gue gak mau
tau! Ini lagi Haruka, udah diem aja” Kata Kinal
“ Tau, udah seret aja seret, hahahaha” Kata
Nabilah
“ Buset bil,
diseret? Iya iya kita ikut deh!” Kata Barry
Kami bertiga
akhirnya mengikuti mereka ketempat yang selama ini dijadikan markas The
Junkies, mereka benar benar sukses membuat kami seperti kerbau dungu yang
dicokok hidungnya. Semua murid yang melihat kami lewat hanya bisa melihat
sambil berbisik, karena mereka juga tak mau membuat masalah dengan The Junkies,
sekali mereka terlibat masalah dengan gerombolan ini sama saja berarti mereka
telah membuka pintu menuju neraka sekolah, apalagi jika mereka hanya murid
biasa seperti kami bertiga. Sesampainya disana pintu langsung mereka tutup,
kami didudukan di bangku, persis seperti tahanan yang akan di introgasi.
“ Ehhh... Jangan
fikir kita gak tau ya kelakuan kalian bertiga waktu kita ribut sama X3!” Bentak
Kinal
“ Tau, kalian
fikir kami gak liat! Kata Shania
“ Emang kalian
liat apa dari kita?” Kata Barry
“ Wahh... malah
ngajak bercanda ini anak! Udah siksa aja siksa!!!” Celetuk Nabilah
“ Ehhh tardulu
dong, emang kita salah apa? Kita gak tau apa apa” Kataku
“ Iya emang
mereka salah apa?” Kata Haruka
“ Ihhh Haruka
diem dulu deh!” Kata Sendy
“ Bentar Nal,
buktinya apa kalo kita terlibat?” Kata Shofa
“ Majalah ini
jelas bukti kalo kalian ada dilokasi saat itu” Kata Kinal
Sebuah majalah
pun dilemparkan ke meja didepan kami, majalah tentang sepak bola yang terbit
seminggu sekali yang biasa dibeli Barry. Jelas kami tidak bisa mengelak, disitu
ada tanda tangan milik pemain Timnas yang jadi Idola Barry plus tulisan yang
tertera jelas di sampul majalah yang isinya “Buku ini milik GanbaBarry”.
“ Yaelah....
penyakit dah!” Kata Shofa
“ Kok bisa sih
loe tinggal? Pake loe tulisin milik GanbaBarry segala lagi” Kataku
“ Lupa gue,
pantesan gue cariin gak ada!” Kata Barry
“ Nah sekarang
mau ngelak gimana lagi loe?” Kata Kinal
“ Udah Nal,
Abisin aja ni anak!” Kata Shania
“ Iya udah
hajarrr aja hajarrr.. kita kerjain abis abisan! hahahaha” Kata Nabilah
“ Oke! Dari pada
jadi masalah, mending kita abisin sekarang biar gak buka mulut” Kata Kinal
Kami bertiga
sudah pasrah menerima apapun yang akan mereka lakukan, yang pasti ini akan jadi
hari bersejarah dimana kami bertiga harus dikerjai abis abisan oleh adik kelas
kami sendiri. Tapi ketika mereka akan mengerjai kami tiba tiba Brrakk.....!!!
pintu terbuka dengan keras, dan saat kami menoleh ternyata itu adalah Melody
dan wakilnya Ve.
“ Kalian tau ini
jam berapa? Kenapa belum masuk kelas?” Kata Melody
“ Heh...sopan ya
loe maen masuk aja tanpa permisi!” jawab Kinal
“ Gue ketua Osis
disini dan gue berhak negakin peraturan!” Kata Melody
“ Jadi mending
kalian ikut kita kelapangan untuk dihukum atau kami mesti bilang kepala
sekolah?” Kata ve
“ Sialan pilihannya
cuma itu lagi nal, gimana dong” kata Shania
“ Oke, kali ini
kalian menang! Tapi awas lain kali” Kata Kinal
“ Oiya?
Uupppsss... gw takut! Kata Melody
Akhirnya sementara
kami selamat dari hukuman The Junkies, tapi tak bisa lolos dari si Ketua Osis
dan wakilnya yang berwajah cantik namun dikenal killer, terutama bagi para
pembuat Onar seperti The Junkies dan X3. Melody memang dikenal sebagai ketua
Osis paling tegas dan sukses sepanjang sejarah sekolah, ia juga diklaim sebagai
Ketua Osis paling cantik sepanjang sejarah sekolah. Apalagi kinerjanya
ditunjang Ve wakilnya yang juga tak kalah cantik dan lebih feminim tapi ia
adalah otak dibalik semua hukuman yang ditakuti oleh semua murid disekolah, tak
terkecuali The Junkies dan X3 yang lebih mirip anak ayam yang tak bernyali jika
berhadapan dengan mereka berdua.
“ Akhirnya kita
lolos ya dari Junkies, tapi kena sama dua Killer!” Kata Barry
“ Ini sih sama
aja masuk kandang macan keluar kandang singa” Kata Shofa
“ Terbalik!” Kataku
“ Heh, ngobrol
aja! Inget ya kalian masih ada masalah sama kita” Kata Shania
Sesampainya
dilapangan Melody meminta kami untuk berjajar, dan saat ia melihat kami satu
persatu sepertinya ia merasa ada yang aneh, lalu bertanya pada Ve. Begitupun Ve
yang juga nampak keheranan melihat kami.
“ Oia, kenapa The
Junkies Cuma berlima? mana satu orang lagi?” Kata Melody
“ Mana gue tau!” Kata
Kinal
“ Sebentar,
kayaknya Ayana nih yang ilang, kemana itu anak?” Kata Ve
“ Ehh... Yaudah
gue aja yang cek!” Kata Sendy
“ Enak aja, yang
ada loe gak akan balik lagi. Yud loe aja yang pergi” Kata Melody
“ Yah kok gue
Mel?” Kataku
“ Atau mau
hukuman loe gue tambah?” Kata Melody
Dengan malasnya
akupun kembali ke markas The Junkies, berurusan dengan mereka aja belum
selesai, sekarang aku malah disuruh untuk menjemput salah satu anggota mereka
di markasnya. Fikiran aneh aneh mulai menyapaku, mulai dari aku yang akan
ditahan disana untuk bahan tebusan Anggota Junkies yang sedang dihukum atau
malah aku yang akan di kerjai habis habisan lalu balik di tinggal. Tapi bagai
mana lagi, dari pada hukumanku ditambah. Sesampainya disana aku langsung
mencari Ayana, anggota Junkies yang paling mudah tertawa dan susah untuk
berhenti jika sudah tertawa dan mudah tertidur dimana saja ketika ia merasa
ngantuk.
“ Mana itu anak?
Kok gak ada?” Gerutuku dalam hati.
Tapi tak lama aku
menemukannya sedang tertidur di salah satu kursi yang teletak di pojok ruangan,
pantas saja ia tak datang kelapangan. Aku juga baru sadar ternyata ia tak ikut
mengintrogasi kami tadi karena tertidur, dan karena saking takutnya kami
bertigapun tak sadar akan hal itu. Tapi saat aku mendekatinya entah kenapa aku
baru tersadar jika Ayana memiliki wajah yang manis bahkan diantara anggota
Junkies lainnya, sesaat langkahku terhenti, mataku tak bisa lepas dari wajah
anggota Junkies yang kadang lemotnya bisa melebihi Haruka.
“wajahnya sih polos tapi kenapa harus ikut
bergabung dengan Junkies? “ Fikirku.
Tapi saat aku
sedang memandangi wajahnya secara tak sengaja aku menendang meja disamping ku
dan suaranya membuat Ayana terbangun.
“ Lohhh kamu
ngapain disini? Yang lain mana?” Kata Ayana
“ Yehhh gue suruh
ngejemput loe, tadi Melody kesini dan ngehukum anak anak karena bolos jam
pelajaran pertama” Kataku
“ Terus sekarang
pada kemana?” Kata Ayana
“ Dilapangan noh,
ayo kesana” Kataku
“ Ngapain?” Kata
Ayana
“ Ya ampun ayy,
loe tuh kalo lemot kadang berlebihan deh, ya kita dihukum sama Duo Killer itu” Kataku
“ Ohhh...
hehehehe” Kata Ayana yang malah tersenyum
Seketika ingatan
burukku tentang Jungkies menghilang saat kulihat manis senyuman dari cewek
bermata sayu ini, tapi sedang asik asiknya berjalan dikoridor, ingatan buruk
itu muncul lagi saat ayana berbalik menghadapku dan mengancamku untuk tidak
bilang kalo ia tertidur.
“ Awas ya kalo
kamu bilangin aku tadi ketiduran!” Kata Ayana
“ Iyaa deh iyaa” Kataku
Lalu kami pun
melanjutkan perjalanan kami, saat sampai dilapangan Melody langsung menegur
ayana.
“ Abis dari mana
loe?” Kata Melody
“ Tadi emmm aku
abiss eeemmm dari kamar mandi ka Imel tanya aja Yudha” Kata Ayana
“ Bener Yud?” Kata
Melody
“ Emmm....
Eee....” Kataku
Dan tanpa sadar
Ayana menginjak kakiku sehingga sambil menahan sakitpun aku menjawab Iya.
“ Oooo... Gue
fikir loe ketiduran” Kata Melody
“ Nggak dong kak
Imel, aku mana pernah begitu hehehehe” Kata Ayana
“ Yaudah masuk
barisan jangan senyam senyum aja kamu!” Kata Ve
And The Nightmare
Begin! Hukumanpun dimulai, hukuman yang bahkan bukan disebabkan oleh ulah kami sendiri.
Saat itu jujur saja kekesalanku kepada Junkies makin bertambah, tapi entah
kenapa dibalik rasa kesalku sesekali senyuman dan wajah Ayana malah sering
terbayang olehku. Hukumanpun dimulai, kami harus berdiri menghormat bendera
sampai jam istirahat tiba, itu artinya hampir 2 jam. Tak sampai disitu, kami
dilarang berbicara apapun dan bergerak selama kami menjalani hukuman, benar
benar seperti patung. Dan yang paling parah adalah saaat gerombolan X3 lewat
depan kami.
“ Ehh,,, Bentar
deh, itu Junkies lagi dihukum Duo Killer ya?” Kata Sinka
“ Ihhh iyaaa
lucuk ya mereka lucuk! Hahaha” Kata Yuvi
“ Hah... Junkies
emang gak lebih dari Genk yang gak becus bikin onar, buktinya dia ketangkep
sama Duo Killer” Kata Naomi
“ Yesss yess i’am
so agree with you” Kata Della
“ Artinya emang
loe ngerti?” Kata Ayen
“ Noo no i’am no
ngerti sebenernya, pokoknya itulah!” Kata Della
Kehadiran X3
ternyata disadari kapten Junkies Kinal, ya Musuh mereka dari kelas X yang tak
lain adalah adik kelas mereka, deretan siswa baru yang tak mau kalah populer
dan akhirnya menciptakan sebuah Genk bernama X3. Soal kecantikan mereka tidak
perlu ditanya, hanya mereka lah yang mampu menyaingi Junkies baik dari segi
popularitas, kekayaan maupun kecantikan para anggotanya. Tapi meski begitu kedua
genk yang sering berseteru ini sama sama punya kesamaan yang ditakuti murid
murid lain bahkan kaka kelas mereka sekalipun yaitu suka berbuat Onar. X3
diketuai oleh Naomi yang merupakan otak terbentuknya X3, dan beranggotakan
Sinka adiknya yang tak kalah polos dan lucu dari Ayana dan Haruka, lalu ada
Ayen Anak rockernya X3 yang merupakan saingan dari Nabilah di Junkies, Lidya
yang Juteknya jadi bahan masalah utama Shania, Yuvi yang menggemaskan, dan
Della anggota yang paling sering berbicara Bahasa Inggris meskipun kadang
belepotan. Tapi sama seperti anggota Junkies, dibalik wajah manisnya mereka
punya sisi lain yang membuat mereka disegani disekolah. Selain tentunya mereka
adalah anak petinggi petinggi dan pejabat pejabat besar.
“ Sialan
Gerombolan anak baru mau kemana lagi?” Kata Kinal
“ Jangan jangan
mau ngeledekin kita” Kata Ayana
“ Wahhh... masih
belum puas juga mereka nyari masalah sama kita!” Kata Shania
“ Ahhh.udah ayo
samperin aja! Ayooo...” Kata Nabilah
“ Ehhh jangan
dulu kitakan lagi dihukum” Kata Ayana
“ Iya juga sih!
Awas aja kalo ini udah selesai...” Kata Kinal
Mendengar
percakapan mereka aku, Barry dan Shofa sedikit bernafas lega, setidaknya
sepertinya mereka sudah melupakan masalah mereka dengan kami, dan lebih memilih
melanjutkan perang dengan X3. Tapi ternyata perang akan pecah lebih awal,
bahkan sebelum hukuman ini selesai karena Geng X3 malah menghampiri kami
dilapangan yang artinya sama saja menantang Junkies untuk melanjutkan
keributan.
“ Wahh wahh wahhh
lihat siapa yang lagi kena hukum?” kata Naomi
“ Hahahahaha.....
kenapa kaka kelas kita yang sok populer ini?” kata Lidya
“ Eh! Gak usah
pada banyak omong ya loe semua!” kata Kinal
“ Tau nih, loe
semua nantangin ribut? Kalian fikir kita takut?” kata Shania
“ Ehhhh udah dong
kita lagi dihukum kan, nanti kalo Melody sama Ve tau gimana?” kataku
“ Diemmm....”
kata Kinal dan Naomi bersamaan
“ Ahhh loe sih
ikutan aja! Biarain aja dodol!” kata Shofa
“ Tau, nyari
masalah aja loe!” kata Barry
Aku akhirnya
memilih untuk diam dan membiarkan dua Genk ini saling melempar ejekan, dan
makin lama suasana makin memanas, Junkies yang dihukum seolah lupa jika mereka
tidak boleh bergerak dan berbicara. Tapi itu tak bertahan lama sebelum akhirnya
Melody dan Ve mengetahui hal tersebut dan langsung menghampiri kami.
“ Junkies, kalian
taukan harus apa? Inget hukuman kalian kan?” kata Melody
“ Ehhh.. Mel asal
loe tau ya, gerombolan anak baru sialan ini yang mulai!” kata Kinal
“ Hah enak aja,
emang dasar aja kalian Genk yang gak becus bikin onar, giliran udah kena hukum
aja pake nunjuk orang lagi” kata Naomi
“ Diem! Berisik
aja... terus kalian juga ngapain lagi X3 ada disini? Bukannya ini masih jam
pelajaran?” kata Melody
“ Ya kitasih gak
sengaja aja lewat dan liat kaka kaka kelas tercinta ini dijemur, ya kita pengen
tau dong!” kata Naomi
“ Ahhh.. yes yes
thats right, itu kanan!” Kata Della
“ Ooo... jadi
kalian pingin ikutan kita jemur juga? Boleh kok boleh! kata Ve
“ Nggak kok
nggak, yaudah kita mau balik lagi kekelas!” kata Yuvi
Akhirnya karena
takut kena hukuman seperti Junkies, X3 pun kembali kekelas mereka. Tapi sebelum
mereka pergi, Kinal memberikan isyarat kepada Naomi yang isinya menantang untuk
melanjutkan peperangan mereka saat pulang sekolah nanti, sayangnya hal itu tak
disadari oleh Melody dan Naomi yang mengerti isyarat tersebut dengan santainya
tersenyum tanda setuju. Entah apa yang akan terjadi, yang pasti aku, Barry dan
Shofa tak ingin ikut terlibat lagi.
Selang beberapa
lama kemudian hukuman kamipun selesai, aku sudah seperti kerupuk yang siap digoreng,
berdiri berjam jam tanpa boleh bergerak memang terlihat sepele tapi untukku
yang tak pernah bermasalah sejak masuk sekolah ini sangat menjengkelkan
sekaligus memalukan, aku benar benar harus melakukan serangan balik pada
Junkies dan mereka harus membayar semua ulah mereka. “Tapi Ayana?” tiba tiba
sosoknya seolah mengganjalku untuk membalas dendam pada Junkies. Peperangan
kini juga terjadi di hatiku, antara harus membalas dendam pada Junkies atau aku
harus membuang dendamku pada Junkies demi sosok Ayana. Entah lah yang jelas jam
pelajaran terus berlalu satu demi satu.
*** Dikantin
Sepulang Sekolah**
Setelah pagi yang
cukup sial bagi aku, Barry dan Shofa memutuskan untuk tidak langsung pulang
setelah jam pelajaran usai, kami memilih pergi kekantin sekolah, disana hanya
ada beberapa siswa yang ikut Eskul dan kebetulan masih belum dimulai.
“ Kalo aja itu
majalah gak ketinggalan” Kata Shofa
“ Seenggaknya
tulisan milik GanbaBarrynya itu yang bikin kita ketauan” kataku
“ Iya deh maaf,
lagian kita juga gak sengaja kan ngintip mereka!” kata Barry
“ Kita harus
bales Junkies, apapun caranya Melody harus tau mereka biang keroknya” kata
Shofa
“ Bener, biar
mereka tau rasa! Kalo perlu di DO aja dari sekolah” kata Barry
“ Jangan dong,
kalo dikeluarin dari sekolah gimana dong?” kataku
“ Gimana apanya?
Loe kenapa? Bukannya selama ini loe dendam banget kemereka!” kata Shofa
“ Jangan bilang
kalo loe sekarang takut kehilangan mereka, kenapa Yud? Cewek lagi?” kata Barry
Sejenak aku
terdiam, aku tak ingin kalo mereka tau aku suka salah satu anggota Junkies,
Ayana. Aku terus berfikir agar mereka tidak curiga, karena jika Junkies
dikeluarkan dari sekolah sama saja aku juga membuat Ayana pergi.
“ Woyyy jawab,
loe gampang ketebak Yud, loe itu gak bakal berani nyakitin atau bikin malu
cewek yang loe suka” kata Shofa
“ Iya, jangan
bilang loe suka sama salah satu anggota Junkies, inget mereka emang cantik tapi
kelakuan mereka adalah bencana buat kita!” kata Barry
“ Buuu bukan itu,
guee.. gue cuma gak mau kalo kita kenapa napa, seenggaknya Junkies udah tau
kalo kita saksi kunci, kalo Melody sampe tau hal ini, kita akan lebih abis sama
Junkies” kataku
“ Bener juga!
Tapi gak papa yang pasti kita akan terus cari cara buat tendang mereka dari
sekolah ini” kata Shofa
“ Nahh.. bener
banget tuh!” kata Barry
Akhirnya mereka
percaya alasanku, hampir saja mereka tau soal perasaanku ke Ayana, setidaknya
derngan begitu mereka tak akan melaporkan kejadian waktu itu ke Melody yang
artinya untuk sementara Junkies bisa aman dari Ancaman DO dari sekolah. Akupun
mengajak Mereka pulang, takut mereka membahas lagi soal cara mengeluarkan
Junkies dari sekolah. Tapi ketika kami sedang berjalan menuju keparkiran, suara
ribut ribut mengagetkan kami. Dan ketika kami cari tau sumbernya, ternyata
Junkies dan X3 benar benar melanjutkan perang mereka.
“ Gila mereka
serius perang lagi?” kata Barry
“ Cabut yuk, dari
pada ketauan mereka lagi” kataku
“ Bentar, kita
bikin mereka kapok kali ini, gue ada ide” kata Shofa
“ Maksud loe?”
kataku
“ Udeh loe pada
diem aja dan kita gak akan ditindas mereka lagi” kata Shofa
Aku dan Barry tak
tau apa rencana Shofa, tapi apapun itu aku sejujurnya takut akan membuat
Junkies tertimpa masalah lagi, kamipun mengambil tempat yang aman dan
bersembunyi namun tetap dapat melihat mereka dengan jelas.
~~~ Besambung ~~~
CHAPTER 2
BERTEKUK LUTUT ( Battle Of Captain )
***Kinal pun
berdiri lagi dan mencoba berjalan pergi meninggalkan Naomi yang tergeletak,
tapi saat ia akan melangkah, kakinya ditahan oleh cengkaraman tangan Naomi yang
cukup kuat, Kinal lalu berbalik dan berusaha menendang Naomi, tapi tanpa diduga
kali ini Naomi masih mampu menahan tendangan Kinal. Semua orang diruangan
terlihat terkejut, termasuk kami bertiga. Kinal yang berusaha melepaskan
cengkaraman tangan Naomi akhirnya berhasil dan mundur beberapa langkah. Kinal
nampaknya sangat terkejut dengan apa yang ia lihat. Naomi terlihat berusaha
berdiri meski ia jelas kesulitan karena ia juga harus menahan sakitnya.***
Akhirnya mereka
percaya alasanku, hampir saja mereka tau soal perasaanku ke Ayana, setidaknya
dengan begitu mereka tak akan melaporkan kejadian waktu itu ke Melody yang
artinya untuk sementara Junkies bisa aman dari Ancaman DO dari sekolah. Akupun
mengajak Mereka pulang, takut mereka membahas lagi soal cara mengeluarkan
Junkies dari sekolah. Tapi ketika kami sedang berjalan menuju keparkiran, suara
ribut ribut mengagetkan kami. Dan ketika kami cari tau sumbernya, ternyata
Junkies dan X3 benar benar melanjutkan perang mereka.
“ Gila mereka
serius perang lagi?” kata Barry
“ Cabut yuk, dari
pada ketauan mereka lagi” kataku
“ Bentar, kita
bikin mereka kapok kali ini, gue ada ide” kata Shofa
“ Maksud loe?”
kataku
“ Udeh loe pada
diem aja dan kita gak akan ditindas mereka lagi” kata Shofa
Aku dan Barry tak
tau apa rencana Shofa, tapi apapun itu aku sejujurnya takut akan membuat
Junkies tertimpa masalah lagi, kamipun mengambil tempat yang aman dan
bersembunyi namun tetap dapat melihat mereka dengan jelas.
“ Loe mau ngapain
sih?” kataku
“ Udah gak usah
bawel, pegangin tas gue nih, gue mau ambil gambar!” kata Shofa
“ Ambil gambar
apaan?” kataku
“ Ihh ini anak
ketularan lemotnya Ayana ya? Padahal baru disuruh jemput bentar doang tadi”
kata Shofa
“ Yehhh serius
kuya, gue bingung nih!” kataku
“ Gue mau rekam
kejadian ini dan ini akan jadi senjata kita buat hancurin mereka” kata Shofa
“ Loe serius?
Wahhh itu ide yang khanmaenbeut” kata Barry
“ Ini lagi anak,
apa itu khanmaenbeut?” kata Shofa
“ Bukan maen
banget! Ahhh susah emang kalo biasa idup di desa!” kata Barry
“ Yehh emangnya
elu alaynya kelewatan!” kataku
“ Udah berisik,
gue mau kerja!” kata Shofa
Kamerapun mulai
menyala dan merekam segala aktifitas yang X3 dan Junkies lakukan, tentu saja
aku dan Barrypun sebenarnya masih heran tentang rencana apakah yang akan Shofa
lakukan. Tapi apapun itu aku tetap cemas jika hasilnya malah akan benar benar
membuat Junkies dan X3 dikeluarkan dari sekolah, terutama Junkies. Sementara
itu
“ Akhirnya loe
berani juga menuhin tantangan” kata Kinal
“ Hahaha...
kenapa harus takut ngadepin gerombolan kaka kelas yang gak becus bertingkah
macam kalian” kata Naomi
“ Ooo... berani
loe ya! Kalian fikir kalian siapa? Cuma adik kelas yang sok ikut ikutan pengen
Populer disekolah ini” kata Shania
“ Oiya? Gue malah
gak tau kalo kalian juga Populer di sekolah ini. Setau gue Junkies gak lebih
dari tukang bikin onar yang ngerasa kesaingin sama X3” kata Ayen
“ Wahhh... ngaco
ini anak rocker amatiran! Udah sikat aja sikat!” kata Nabilah
“ Kinal kita
emang mau berantem lagi ya sama mereka?” kata Haruka
“ Iya tadikan
kita udah dihukum Nal” kata Ayana
“ Tuh liat
kelakuan dua anggota loe, lemotnya minta ampun, hahahaha” kata Naomi
“ Iya mereka kan
duo Jepang, yang satu Jepang Import, yang satu Jepang turunan” kata Sinka
Tak disangka
ternyata ucapan Sinka dan Naomi membuat Haruka dan Ayana marah besar, tanpa Sinka dan Naomi
sadari sebuah tendangan keras telak mendarat di perut mereka berdua dan membuat
mereka terjatuh dan langsung membentur tembok. Aku yang melihat langsung
kejadian itu hanya bisa terdiam menelan ludah, tak kusangka sosok Ayana dan
Haruka yang kukenal paling polos di Junkies bisa menjadi sagahar itu. Tapi
kedua kakak beradik Naomi dan Sinka langsung terbangun dan anehnya mereka malah
tersenyum seperti tak merasakan sakit sedikitpun.
“ Cuma segitu
tenaga loe berdua?” kata Naomi
“ Kalo gue
saranin mending kalian belajar nendang yang bener!” kata Sinka
“ Banyak omong!
Junkies abisin mereka!!! Kata Kinal
“ X3 tunjukin
siapa kita” kata Naomi
Perkelahian seru
antara dua Genk inipun tak terelakan, meski mereka perempuan aku akui cara
berkelahi mereka lebih sadis dari pada anak anak SMA lain yang tawuran di
jalanan. Tapi aku tak heran jika mengingat Kinal dan Naomi adalah pemegang
sabuk hitam Taekwondo. Semua benda disekitar mereka pun tak bisa terhindarkan
dari kerusakan. Aku bahkan tak bisa bernafas melihat kejadian itu, sementara Shofa
terus saja merekam kejadian tersebut moment demi moment. Kami saja bahkan harus
berlindung dari serpihan kaca yang pecah akibat lemparan bangku, entah siapa
yang melakukannya. Situasi makin lama makin tak terkendali, hingga akhirnya suasana
tegang mulai memuncak ketika Naomi dan kinal saling berhadapan satu lawan satu.
Sementara teman teman mereka hanya mampu melihat karena sudah kehabisan tenaga
dan menahan sakit.
“ Ini dia yang
gue tunggu!” kata Shofa
“ Kinal sama
Naomi, mereka gila apa?” kata Barry
“ Ini akan jadi
penentuan, harga diri dan nama besar Genk mereka di pertaruhkan disini” kataku
“ Dan kita adalah
saksi dari sejarah mereka kelak!” kata Shofa
“ Show time!”
kataku
Dengan langkah
tertatih Naomi maju lebih dulu, kinal yang sudah bersiap langsung mengarahkan
pukulannya kearah wajah Naomi, namun sial bagi Kinal, Naomi dapat
mementahkannya dan kini balik menyerang, kini sebuah tendangan keras mendarat
di samping pinggang Kinal yang membuat ia terjatuh. Kinal mencoba untuk berdiri
meski sulit, tapi tanpa ia sadari Naomi sudah mendekatinya dan siap melancarkan
serangan. Tanpa aba aba sebuah tendangan mengarah tepat kemuka Kinal, tapi kali
ini justru kinal yang menahannya dan balik menghantam wajah Naomi dengan sebuah
pukulan keras. Naomipun terhempas dan terjatuh dilantai, pukulan kinal kali ini
sepertinya benar benar mebuat Naomi tak bisa bangun, Kinal yang melihat hal
tersebut lalu menghampiri Naomi meski dengan langkah tertatih, Kinal lalu
mendekatkan wajahnya ke wajah Naomi yang tergelatak di lantai.
“ Gue peringatin
sama loe, jangan pernah cari masalah sama Junkies! Ngerti loe?” kata Kinal
Naomi tak
menjawab apapun, ia nampaknya benar benar kesakitan, sementara anggota X3 lain
hanya mampu tertunduk lesu seolah tak terima dengan apa yang terjadi dihadapan
mereka. Aku, Shofa dan Barry masih tak percaya dengan apa yang kami lihat.
“ Its Over, X3
harus kalah telak dari Junkies kali ini” kataku
“ Jangan cepet
ambil kesimpulan” kata Shofa
“ Naomi udah
kalah telak, apa lagi yang bisa X3 lakuin?” kata Barry
“ Liat aja, gue
yakin Naomi bukan tipe orang yang nyerah gitu aja” kata Shofa
Kinal pun berdiri
lagi dan mencoba berjalan pergi meninggalkan Naomi yang tergeletak, tapi saat
ia akan melangkah, kakinya ditahan oleh cengkaraman tangan Naomi yang cukup
kuat, Kinal lalu berbalik dan berusaha menendang Naomi, tapi tanpa diduga kali
ini Naomi masih mampu menahan tendangan Kinal. Semua orang diruangan terlihat
terkejut, termasuk kami bertiga. Kinal yang berusaha melepaskan cengkaraman
tangan Naomi akhirnya berhasil dan mundur beberapa langkah. Kinal nampaknya
sangat terkejut dengan apa yang ia lihat. Naomi terlihat berusaha berdiri meski
ia jelas kesulitan karena ia juga harus menahan sakitnya.
“ Ehh... jangan
fikir gue nyerah gitu aja ya sama loe! Gue gak selembek yang loe kira” kata
Naomi
“ Oia? Kalo bagus
deh! Seengaknya gue bisa bener bener abisin tenaga gue buat nutup mulut sombong
adek kelas kayak loe” kata Kinal
“ Gak usah sok
jagoan, ayo kita buktiin siapa yang bakal kalah hari ini” kata Naomi
“ Berisik!!!”
kata Kinal
Kinal lagi lagi
menyerang Naomi, saling serang dan tangkispun terjadi, berkali kali hantaman
Kinal berhasil di mentahkan Naomi, begitupun sebaliknya, nampaknya mereka
berdua sama sama kuat dan tak ada yang mau kalah. Disisi lain Lidya terlihat
mulai bangun dan mencoba ikut menyerang Kinal dengan sisa tenaga yang ia
miliki, Kinal yang sadar akan kehadiran Lidya langsung berusaha menahan
serangan Lidya dan balik menyerang Lidya, karena kalah tenaga Lidya kembali
terjatuh oleh tendangan Kinal yang mendarat tepat di punggungnya, tapi justru
hal itu membuat konsentrasinya pada Naomi lengah, akhirnya sebuah tendangan
Naomipun membuat Kinal terhempas. Kini situasi berbalik, Naomi lah yang unggul
atas Kinal yang hanya mampu tergeletak lemas menahan sakit. Senyum kepuasan
balik tercanpcar dari wajah para anggota X3.
“ Sialan, mereka
curang!” kata Sendy
“ Heh penyanyi
dangdut, loe fikir ini pertandingan resmi, semua cara halal disini” kata Ayen
“ Yes yes, thats
right brother, itu kanan” kata Della
“ Ngadepin kita
gak cukup pake tenaga, tapi harus pake otak juga” kata Naomi
Anggota X3
sepertinya benar benar diatas angin, Kinal kini benar benar tak bisa berkutik,
Naomi yang melihat hal itu langsung menghampiri Kinal dan menginjak tubuh Kinal
yang sudah tak berdaya.
“ Kaka kelasku
yang manis, gue udah peringatin loe kan?” kata Naomi
“ Berisik” kata
Kinal tertahan
Mendengar hal
tersebut Naomi kembali tersengat emosi dan menendang tubuh Kinal, jelas saja
kinal harus terguling guling karena kerasnya tendangan Naomi. Melihat lawannya
sudah tak bisa apa apa lagi, Naomi lalu mengajak seluruh anggota X3 pergi. Meninggalkan
Junkies dengan penuh kemenangan telak. Para anggota Junkies pun menghampiri
Kinal dan mencoba membantunya. Aku, Barry dan Shofa lalu bergegas pergi sebelum
diketahui Junkies dan X3. Rekaman perkelahian mereka kini ada di tangan kami.
Entah apa yang akan Shofa lakukan dengan rekaman tersebut yang jelas sepertinya
itu akan jadi senjata kami untuk balas dendam pada Junkies. Saat menuju ke
pakiran sekolah tiba tiba Melody dan Ve memanggil kami bertiga.
“ Abis dari mana
loe semua? Tumben belum pulang” kata Melody
“ Eh.. nggak kita
abis dari kantin kok tadi” kataku
“ Kok arahnya
dari sana, bukannya itu arah dari gudang belakang sekolah?” kata Ve
“ Ooo gak papa
kok, kita sengaja aja muter muter sekolah dulu, maklum beberapa bulan lagi kan
kita lulus” kata Shofa
“ Nah iya tuh
bener benget Mel, kitakan masih pengen kangen kangenan dulu” kata Barry
“ Ooo baguslah,
gue Cuma mau mastiin gak ada yang aneh aneh disekolah ini” kata Melody
Aku, Shofa dan
Barry segera meninggalkan Sekolah dengan mobil Shofa, nyaris saja Melody
mengetahui apa yang terjadi, kami benar benar tak ingin terlibat masalah,
apalagi jika itu berhubungan dengan Junkies. Disepanjang jalan pulang aku terus
saja memikirkan hal yang tadi kulihat, kenapa bisa Kinal kalah oleh Naomi? Apa
yang akan terjadi besok? Tapi yang paling tak ku mengerti bagai mana bisa Ayana
dan Haruka bisa jadi segahar itu saat berkelahi. Tapi tanpa sempat kutemukan
jawabannya aku telah sampai dibenkel langgananku untuk mengambil motorku yang
ku Service.
***Dirumah***
Malam ini
kuhabiskan waktuku didepan Laptopku, sengaja kuhabiskan waktu dengan main games
dan mendegarkan musik untuk mengusir semua fikiranku tentang kejadian disekolah
hari ini. Wajah Ayana masih saja terus terbayang olehku, diantara kacaunya
fikiranku masih saja terlintas difikiranku sosok gadis bermata sayu itu.
Semakin ku coba melupakannya semakin ia nyata dihadapannku, akhirnya dari pada
ini makin berlanjut dan membuat otakku pecah aku memilih untuk mengajak Barry
dan Shofa keluar, tapi sial bagiku, entah mereka sedang ada di negara antah
barantah atau diculik alien tapi mereka sama sekali tak bisa dihubungi.
“ Sialan, giliran
kayak gini kok malah pada gak bisa dihubungi” gerutuku
Akhirnya aku
memutuskan untuk keluar sendiri, setelah ganti baju aku segera menyalakan
motorku dan pergi tak tentu arah. Aku hanya ingin mencoba mengusir semua
fikiranku tentang Ayana, sebelum perasaan ini benar benar jatuh padanya dan
akan jadi masalah besar karena tentu saja Shofa dan Barry akan menggantuungku
karena aku menyukai musuhku sendiri. Motorku terus melaju, tanpa kusadari kini
aku telah sampai disuatu perumahan elite, dan ketika kuingat ini adalah rumah
salah satu anggota Junkies, Ayana.
Situasi bertambah rumit ketika saat aku akan memutar arah, Ayana sudah
ada tepat dihadapanku.
“ Kamu mau
kemana?” kata Ayana
“ Emmm... gue,
emmm mauu eeee... nyari makan Ay” kataku
“ Yaudah aku
minta anter dong” kata Ayana
“ Tapi gue buru
buru ay” kataku
Tak terima dengan
ucapanku yang menolak ajakannya ia lalu menarik kerah bajuku dan mendekatkanku
kewajahnya.
“ Eh... Jangan
mentang mentang diluar aku takut ya! Gak usah so deh!” kata Ayana
Aku hanya terdiam
dan tak bisa berkata apapun, tapi saat kutatap matanya dari jarak sedekat itu
jantungku kini terasa mati. Wajahnya benar benar membuatku mati kutu,
ancamannya benar benar tak berarti apapun bagiku tapi wajah manisnyalah yang
membuatku akhirnya mengiyakan ajakannya. Ia lalu naik kemotorku dan kamipun
pergi ketempat makan yang ia tunjukan. Sial bagiku, maksud hati ingin melupakan
fikiran tentang Ayana, malah anak itu sekarang ada bersamaku. Tak lama kami
sampai di tempat yang kami tuju.
“ Gila ay, loe
gak salah? Inikan cafe gede banget, pasti mahal” kataku
“ Gak usah banyak
omong ya, cafe ini kalo aku mau juga bisa kubeli” kata Ayana
“ Iyadeh iya”
kataku
“ Ayo masuk!”
kata Ayana
“ Ahh masuk, nggak
ah mana punya duit gw, lagian makannya pasti mahal” kataku
“ Maka dari itu
aku yang bayar, mau gak, kalo gak yaudah” kata Ayana
Akhirnya aku
mengiyakan ajakannya, heran bukankah ia disekolah sangat ingin memburuku untuk
jadi bahan Bullyan Junkies, tapi kini ia malah mengajakku makan. Awalnya aku
juga ragu untuk makan dengannya apalagi kalo sampai Barry dan Shofa tau aku
makan dengan salah satu anggota Junkies. Tapi aku juga tak bisa lari karena
Ayana yang mengajakku dan jika ku tolak besok aku bisa berakhir di gudang
sekolah dan tak bisa pulang akibat dikerjai habis habisan Junkies. Saat kami
makan tak ada sepatah katapun yang terlontar, kami berdua duduk dan saling
mengunci mulut, tapi lama lama aku merasa jenuh dan memberanikan diri membuka
obrolan.
“ Pipi loe
kenapa? Kok biru?” kataku
“ Gak usah so
care deh” kata Ayana
“ Loh gue kan
cuma tanya” kataku
“ Eh... kamu itu
ya kalo dikasih tau sekali ngerti gak sih, gak usah sok care!” kata Ayana
“ Iya iya maaf”
kataku
Tapi tanpa kami
sadari anggota X3 yang merayakan kemenangannya atas Junkies juga sedang berada
tak jauh dari kami.
“ Ehhh... bentar
deh itukan si Ayana sama Yudha” kata Sinka
“ Iya deh, kok
bisa sih mereka makan bareng, bukannya Junkies sering ngebully Yudha CS?” kata
Lidya
“ Ahhaaaaaa.... kayaknya
ada skandal baru nih” kata Ayen
“ What? Sandal?”
kata Della
“ Skandal Cipuyyy
skandal!” kata Lidya
“ Iyahh ihh Della
kadang kadang deh” kata Yuvi
“ Sorry Sorry!
hehehehe” kata Della
“ Junkies emang
kaka kelas paling bodoh, udah gak becus bikin onar, kalah berantem, eh sekarang
anggotanya malah makan bareng sama bahan Bullyannya” kata Naomi
“ Gimana nih, apa
mau kita samperin mereka?” kata Sinka
“ Oke! Kita buat
kencan mereka ancur” kata Naomi
X3 lalu bergegas
menghampiri mejaku dan Ayana, tentu saja aku yang baru sadar akan kehadiran
mereka sangat terkejut, tapi aku juga tak bisa pergi karena percuma, Ayana tak
akan pernah mau dibawa lari, apalagi jika X3 yang datang.
“ Wahh wahh
wahh,,,, lihat siapa yang lagi ngedate sama bullyannya sendiri” kata Naomi
“ Iya kayaknya
ada Skandal baru nih” kata Ayen
“ Ehh... jaga ya
mulut kalian” kata Ayana
“ Oooppss... kita
takut! Hahahaha” kata Naomi
“ Aku bilang diem!
bisa diem gak?” kata Ayana
“ Kalo nggak
emang loe mau apa? Ketua loe aja udah kita kalahin kan?” kata Lidya
Ayana kontan
langsung berdiri menghadap X3, sepertinya akan ada perkelahian lanjutan, tapi
ini gila, ini tempat umum dan aku jelas takkan membiarkan hal itu terjadi.
Sebelum semuanya makin parah aku segera menarik Ayana keparkiran dan memaksanya
untuk pulang, Ayana memang agak menolak apalagi X3 menertawakan kami seolah
kami memang pengecut yang tak berani menghadapi mereka. Tapi buatku yang
penting keributan bisa dihindarkan, lagi pula jumlah mereka lebih banyak, jika
Ayana tetap memaksakan hasilnya ia akan lebih babak belur dari tadi siang.
“ Kamu apa apaan
sih? Gak usah ikut campur deh!” kata Ayana
“ Eh, denger ya
kalo loe gue tinggal disana yang ada kalian bakal ribut lagi’ kataku
“ Yaudah terus
emangnya kenapa? Aku gak takut” kata Ayana
“ Ayyy pake akal
loe, udahlah, mereka menang jumlah, loe mau lebih babak belur lagi” kataku
“ Ya emang
kenapa?” kata Ayana
“ Kalo loe kenapa
napa gimana? Lagian ini gak akan selesain masalah” kataku
Ayana hanya
terdiam, mungkin ia sedang memikirkan kata kataku atau mungkin ia menahan kesal
atas kekalahan Junkies tadi siang dan kini ia kembali dipermalukan X3. Aku
segera mengajaknya pulang dan sepanjang jalan tak ada sepatah katapun terucap
dari kami berdua. Sesampainya dirumah, ia tanpa basa basi langsung turun dari
motorku dan pergi meninggalkanku.
“ itu anak kenapa
sih? Dibelain kok malah begitu” gerutuku
Tapi tak lama
sesosok cewek cantik keluar dari dalam rumah dan menghampiriku, umurnya kira
kira dua tahun lebih tua dari Ayana, aku tak tau siapa dia tapi yang jelas ia
tak kalah cantik dari Ayana.
“ Maafin Ayana
ya, dia suka gitu, kamu temen sekolahnya ya?” kata Sicewe
“ Iya gak papa,
oia kaka siapa?” kataku
“ Ooo... kenalin
aku Sakina, kakaknya Ayana!” kata Cewe yang ternyata bernama Sakina
“ Oia, aku Yudha
ka!” kataku
“ Sekali lagi
maafin sikap Ayana ya, dia memang sering emosian akhir akhir ini karena papa
mama gak jadi pulang dari Jepang” kata Sakina
“ Iya kak gak
masalah, aku pamit pulang ya ka” kataku
“ Iya, hati hati
ya” kata Sakina
Setelah pertemuan
itu kini aku tau jika Ayana hanya tinggal berdua dengan kakaknya Sakina, dan
orang tua mereka tinggal dan bekerja di Jepang. Tapi yang makin membuatku heran
adalah kenapa sikap Sakina amat ramah dan berbanding terbalik dengan sikap
Ayana yang cenderung galak meski kuakui aku mulai terbiasa menghadapinya. Aku
terus memacu motorku menuju rumahku, dan ini adalah hari paling gila yang
kulalui, mulai dari berurusan dengan Junkies sampai kepergok makan bareng
dengan salah satu Anggotanya. Entahlah yang pasti aku langsung tertidur lelap
saat sampai rumah karena kepetenatan yang amat sangat menyiksaku hari ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar